TIMES BLORA, BLORA – Gang Panggang terus dikenal sebagai salah satu pusat jajanan pasar tradisional di pusat kota Kabupaten Blora.
Terletak di Jalan Gunung Sumbing, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya pedagang jajanan pasar yang menawarkan beragam kudapan khas, baik jajanan basah maupun jajanan kering, dengan cita rasa rumahan yang familiar di lidah masyarakat.
Sejak pagi hari, aktivitas jual beli mulai terlihat di sepanjang gang. Para pedagang menata dagangan di lapak sederhana, sementara pembeli datang silih berganti untuk memilih jajanan yang diinginkan.
Aneka klepon, cenil, lupis, onde-onde, risol, lumpia, hingga jajanan kering seperti rengginang, kerupuk tahu, dan aneka gorengan menjadi pemandangan yang lazim ditemui di kawasan tersebut.
Harga yang relatif terjangkau membuat Gang Panggang tetap diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga masyarakat dari luar wilayah Blora kota.
Salah satu pedagang jajanan pasar di Gang Panggang, Sani, mengungkapkan bahwa kondisi penjualan di lokasi tersebut bersifat fluktuatif.
Menurutnya, momen-momen tertentu sangat berpengaruh terhadap jumlah pembeli yang datang.
“Menjelang tahun baru kemarin suasananya lumayan ramai. Banyak pembeli yang datang sejak pagi, ada yang beli untuk camilan, ada juga yang buat stok di rumah,” tutur Sani saat ditemui di lapaknya, selasa (6/1/2026).
Namun, suasana ramai tersebut tidak bertahan lama. Memasuki awal tahun, jumlah pengunjung yang datang ke Gang Panggang mengalami penurunan. Kondisi ini dirasakan hampir oleh seluruh pedagang di kawasan tersebut.
“Kalau sekarang, di awal tahun ini memang cukup sepi. Pembeli masih ada, tapi tidak seramai akhir tahun kemarin,” ujarnya.
Sani menjelaskan, selain momen pergantian tahun, permintaan jajanan pasar biasanya meningkat saat ada hajatan, acara keluarga, atau kegiatan tertentu di masyarakat. Pada saat-saat seperti itu, dagangan bisa habis lebih cepat dibandingkan hari biasa.
“Biasanya kalau ada pesanan buat hajatan atau acara, dagangan bisa cepat habis. Tapi kalau hari-hari biasa, ya jualannya pelan-pelan,” kata Sani.
Meski penjualan sedang menurun, Sani dan pedagang lainnya tetap membuka lapak setiap hari. Mereka berharap kondisi ekonomi masyarakat kembali membaik sehingga daya beli juga meningkat.
Bagi para pedagang, Gang Panggang bukan hanya tempat untuk menjajakan dagangannya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarga mereka.
“Ya tetap buka setiap hari. Namanya usaha kecil, kita jalanin saja dulu. Mudah-mudahan ke depan bisa ramai lagi,” ucapnya.
Gang Panggang sendiri buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB. Pada jam-jam tertentu, terutama pagi hingga menjelang siang, kawasan ini biasanya lebih ramai dibandingkan sore hari.
Selain menjadi tempat favorit untuk berburu jajanan tradisional, Gang Panggang juga berperan dalam menjaga keberlangsungan kuliner pasar yang kian tergerus oleh menjamurnya jajanan modern.
Di sisi lain, jajanan pasar di Gang Panggang juga memiliki pelanggan setia. Salah satunya Risti, warga Blora, yang mengaku kerap membeli jajanan pasar di lokasi tersebut untuk berbagai keperluan.
“Saya sering beli jajanan pasar di Gang Panggang. Kadang untuk hajatan, kadang buat suguhan tamu, dan kadang juga memang untuk dinikmati sendiri di rumah. Anak-anak juga suka,” ungkap Risti.
Menurut Risti, selain rasanya yang masih khas tradisional, pilihan jajanan di Gang Panggang juga cukup lengkap dan mudah dijangkau.
“Kalau ada tamu datang atau acara keluarga, beli di sini itu praktis. Pilihannya banyak dan harganya juga terjangkau,” katanya.
Keberadaan Gang Panggang menjadi bukti bahwa jajanan pasar masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Blora.
Dengan suasana sederhana antara pedagang dan pembeli, gang ini menjadi salah satu sudut kota yang menyimpan denyut ekonomi rakyat sekaligus melestarikan tradisi kuliner lokal. (*)
| Pewarta | : Ahmad Rengga Wahana Putra [MG-301] |
| Editor | : Ronny Wicaksono |