Desak Dirut Bulog dan Presiden Bertindak, APTRI Gelar Aksi Damai di Alun-alun Blora
Aksi ini menjadi bentuk tuntutan atas ketidakjelasan operasional Pabrik Gula GMM yang hingga kini belum menunjukkan kepastian.
BLORA – Ribuan petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) menggelar aksi damai di Alun-alun Blora.
Aksi tersebut menjadi bentuk tuntutan atas ketidakjelasan operasional Pabrik Gula GMM yang hingga kini belum menunjukkan kepastian.
Dalam aksi tersebut, massa yang mencapai sekitar 2.000 orang turut membawa 193 truk dan tiga unit jonder sebagai simbol kekuatan petani tebu.
Mereka menyuarakan aspirasi secara tertib dengan harapan pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret.
Ketua APTRI, Sunoto, menyampaikan bahwa gerakan ini merupakan bentuk kegelisahan para petani tebu di Kabupaten Blora yang menggantungkan hidupnya pada keberlangsungan pabrik gula tersebut.
"Aksi ini terutama tuntutan para petani tebu di kabupaten blora. Ini ditujukan kepada pak dirut bulog pusat dan juga pak presiden bisa menolong tuntutan petani ini," ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Ia menegaskan, terdapat beberapa tuntutan utama yang disampaikan dalam aksi damai tersebut. Di antaranya adalah perbaikan dan pengoperasian kembali Pabrik Gula GMM.
"Yang pertama adalah merenovasi atau membenahi PG GMM agar bisa operasional kembali 2026," lanjutnya.
Selain itu, para petani juga mendesak adanya pembenahan dari sisi internal manajemen pabrik.
"Yang kedua, agar adanya pergantian manajemen di PG GMM. Dan yang ketiga, manakala pak dirut bulog tidak siap untuk mengoperasionalkan atau bertanggung jawab tentang jalannya PG GMM, harus di ikhlaskan, di pindah alihkan yang memegang atau istilahnya dijual kepada pihak yang lain," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pihak lain yang dimaksud bisa berasal dari kalangan swasta maupun BUMN sektor perkebunan.

"Pihak lainnya baik itu swasta maupun PTPM atau SGM," katanya.
Menurutnya, tuntutan ini hanya dapat dijawab oleh pihak yang memiliki kewenangan tertinggi, yakni Direktur Utama Bulog dan Presiden Republik Indonesia.
"Yang jelas, yang bisa menjawab tuntutan petani ini kan dirut pusat dan pak presiden. Siapapun yang dituntut saya kira tidak bisa menyelesaikan masalah selama tidak pak dirut dan pak presiden," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan adanya janji sebelumnya yang hingga kini belum terealisasi, sehingga semakin menambah kekecewaan para petani.
"Kalau yang tanggal 14 januari, kami dijanjikan manakala tuntutan pak dirut kepada pemerintah 7 persen dari yang diajukan disetujui, ini GMM mau diperbarui mesin-mesinnya. Maka sampai saat ini belum ada informasi atau kejelasan, semua petani butuhnya kejelasan siap atau tidak," pungkasnya.
Melalui aksi damai ini, Sunoto berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian terkait nasib Pabrik Gula GMM, sehingga para petani tebu dapat kembali menjalankan aktivitas produksi dengan tenang dan berkelanjutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

